tradisi Indonesia

tradisi Indonesia
animasi

Kamis, 13 Oktober 2011

Tradisi Tedak Sinten (Turun Tanah)

Seorang anak yang berusia tujuh lapan (7 x 35 hari) dimandikan dengan air kembang setaman. Setelah memakai pakaian baru, sang anak dibimbing ibunya menginjak jadah (semacam nasi ketan tumbuk) 7 warna. Untuk selanjutnya sang anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu wulung berwarna ungu. Sang anak kemudian dimasukkan kedalam kurungan ayam berhias janur kuning dan hiasan lainnya. Dalam kurungan tersebut terdapat beberapa benda yang harus dipilih sang anak. Acara tersebut merupakan tradisi Jawa yang disebut Tedak Siten, peringatan di mana seorang anak mulai dilatih berjalan dengan menapakkan kedua kakinya di bumi.
            Posisi beberapa bintang mempunyai pengaruh terhadap kelahiran seorang bayi. Perhitungan tahun matahari dibuat berdasarkan lamanya waktu bumi beredar mengelilingi matahari dengan masa 1 tahun. Tahun berdasar pengaruh matahari tersebut dirinci dalam bulan, minggu dan hari, dimana harinya berjumlah tujuh. Perhitungan kalender berdasar bulan dihitung berdasarkan lamanya waktu bulan mengelingi bumi yaitu 1 bulan. Satu tahun dalam kalender bulan ada 12 bulan dan tiap  bulan dirinci menjadi pasar, pekan dan hari dimana 1 pasar  ada  5 hari. Peringatan yang mendasarkan kombinasi posisi matahari dan bulan akan berulang setiap 7 x 5 hari. Leluhur kita telah mengetahui bahwa posisi matahari dan bulan mempunyai pengaruh terhadap bumi. Seorang anak yang lahir pada weton, kelahiran tertentu mempunyai potensi tertentu. Dan weton, hari kelahiran yang berulang setiap 35 hari tersebut perlu dihormati. Bagi orang dewasa pada hari weton tersebut dibiasakan mengendalikan diri dengan cara puasa yang disebut puasa apit weton, yang dimulai sehari sebelum dan berakhir sehari sesudah weton. Puasa pada bulan purnama juga dilakukan karena pengaruh bulan purnama terhadap bumi dan diri manusia cukup besar. Demikian pula pada waktu gerhana, formasi matahari dan bulan akan mempunyai pengaruh khusus terhadap bumi dan manusia.
            Sebagai pengetahuan, pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan bulan dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh Kalender Gregorian yang merupakan kalender matahari.
            Kembali ke Tedak Siten, manusia mempunyai beberapa tahap perkembangan diri. Pertama, tahap bayi yang sangat tergantung terhadap ibu dan orang lain, bisanya hanya meminta. Tahap kedua adalah anak muda yang mandiri, bisa melakukan sendiri. Tahap ketiga adalah seorang yang dewasa, yang sudah sadar walau mandiri tetapi tidak egoistis dan menyadari bahwa seseorang mempunyai saling ketergantungan dengan orang lain, tidak bisa hidup sendiri. Awal dari tahap kedua dimulai, ketika seorang anak mulai belajar berjalan, sehingga apabila menginginkan sesuatu seorang anak sudah dapat mengambil sendiri tanpa minta pertolongan orang lain. Pada waktu berjalan, kedua kaki sang anak menapak langsung dengan bumi, tidak lagi dalam gendhongan seorang ibu. Kita hidup-mati berada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan semua berasal dari bumi, maka kita perlu menghormati bumi.
            Bayi lahir dengan naluri awal, naluri dasar, untuk makan. Apa saja yang dipegangnya  akan dimasukkan mulut. Berlainan dengan kesadaran seorang anak manusia yang terus berkembang, kesadaran hewan tidak berkembang, yang ada dibenaknya hanya makan. Babi yang diberikan makanan basi dan permata, jelas memilih makanan yang basi. Wajarlah seorang Gusti Yesus bersabda, Jangan berikan permata kepada babi-babi! Pada waktu seorang anak berusia 7×35 hari, 245 hari, kira-kira 8 bulan, insting-naluri bawaan genetiknya masih ada, tetapi dalam perkembangan diri selanjutnya, insting bawaan akan terdorong ke dalam bawah sadar, tertutup oleh kegiatan-kegiatan baru. Pada saat anak berusia sekitar 8 bulan tersebut, potensi anak dapat diketahui. Di Tibet pada saat usia anak yang lebih tua, kepada beberapa anak yang diperkirakan menjadi reinkarnasi dari seorang Dalai Lama, akan diberikan beberapa benda yang merupakan milik Dalai Lama yang telah meninggal sebelumnya. Mereka yang dapat memilih dengan tepat, berdasar naluri, instingnya yang terbawa dari kehidupan lalu akan dipilih sebagai Dalai Lama yang baru. Konon, Tiga Orang Suci dari Timur datang ke Timur Tengah setelah melihat posisi rasi bintang dan untuk memverifikasi apakah yang anak yang lahir betul seorang Masiha dengan cara yang hampir sama. Bagi yang percaya, seseorang yang mati dan masih punya keterikatan dengan keduniawian, jiwanya masih akan meneruskan evolusi yang belum diselesaikan dalam kehidupannya. Dia akan lahir lagi mendapatkan orang tua, lingkungan yang menunjang evolusi jiwanya. Pemilihan beberapa benda dalam Tedak Siten seperti buku tulis, dompet, perhiasan, gunting, kitab sastra, ataupun alat bela diri, selaras dengan pengetahuan itu. Potensi anak akan nampak dengan jelas, sehingga orang tua paham bagaimana meningkatkan potensi anak sebaik-baiknya.
            Pada dasarnya kita hidup di dunia, terkurung, terbelenggu oleh dunia. Dalam Tedak Siten, dapat dilihat anak yang sebenarnya tidak senang dimasukkan ke dalam kurungan dan menangis minta pertolongan pada ibunya. Manusia yang sadar pun ingin kembali kepada Bunda Ilahi. Bagi penganut spiritual, baik harta, tahta ataupun ilmu pengetahuan adalah modal awal untuk membebaskan diri dari belenggu dunia. Seorang Guru datang untuk membebaskan diri manusia dari kurungan. Tetapi yang diharapkan manusia adalah Guru yang memberikan pengetahuan untuk hidup sukses dalam kurungan. Diri yang lepas dari kurungan dunia tidak berarti melarikan diri dari dunia, hanya tidak terikat dengan dunia. Hidup semata-mata hanya berupa persembahan, ibadah. Sepi dari Pamrih, keinginan dunia dan Rame ing Gawe, tetap berkarya sepanjang hidupnya.
            Tentu saja ada makna dalam mandi kembang setaman dan menginjak jadah 7 warna, demikian pula dengan upacara yang dilakukan di alam terbuka dan lain sebagainya. Terima kasih para leluhur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar